Rabu, 18 November 2015

TUGAS PERSONAL ARTIKEL SOFTSKILL ILMU BUDAYA DASAR



BUDAYA SEBAGAI JATI DIRI BANGSA

Kebudayaan atau budaya menurut Bapak Antropologi Indonesia, Koenjtaraningrat (1996), adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Pengertian tersebut merujuk pada gagasan J. J Honigmann (1973) tentang wujud kebudayaan atau disebut juga ‟gejala kebudayaan‟. Honigmann membagi kebudayan kedalam tiga wujud, yakni kebudayaan dalam wujud ide, pola tindakan dan artefak atau benda-benda.
Jati diri, singkatnya, adalah moralitas publik yang menjadi pegangan kehidupan orang per orang dalam sebuah bangsa. Bangsa kita dikenal sebagai bangsa yang sangat kreatif mengolah kebudayaan-kebudayaan pendatang guna akhirnya menjadi bagian integral dari jati diri bangsa.
aturan, hukum yang diacu untuk menata, menilai, dan menginterpretasikan benda dan peristiwa dalam berbagai aspek kehidupannya. Nilai-nilai yang menjadi salah satu unsur sistem budaya, merupakan konsepsi abstrak yang dianggap baik dan amat bernilai dalam hidup, yang kemudian menjadi pedoman tertinggi bagi kelakuan dalam suatu masyarakat.



Kebudayaan dalam Perspektif Hukum Adat
Seorang sarjana Belanda C. Van Vollenhoven (1948) membedakan kebudayaan sukubangsa Indonesia berdasarkan sistem lingkaran-lingkaran hukum adat dari masingmasing sukubangsa yang tersebar di Indonesia; Van Vollenhoven membagi lingkaran-lingkaran itu ke dalam 19 daerah hukum adat, yaitu yang meliputi : Aceh, Gayo-Alas dan Batak (termasuk Nias dan Batu), Minangkabau (termasuk Mentawai), Sumatera Selatan (termasuk Enggano), Melayu, Bangka dan Biliton, Kalimantan (termasuk Sangir-Talaud) Gorontalo, Toraja, Sulawesi Selatan, Ternate, Ambon Maluku (termasuk kepulauan Barat Daya), Irian, Timor, Bali dan Lombok, Jawa Tengah dan Jawa Timur, Surakarta dan Yogyakarta, dan Jawa Barat.
Dalam Kamus   Besar   Bahasa   Indoensia(versi   elektronik   2012) jati diri atau  identitas  (iden·ti·tas/idéntitas, noun) dimaknakan  sebagai ciri-ciri atau  keadaan    seseorang.  Misalnya  dalam  kalimat: Identitas pembunuh   itu   sudah   diketahui   polisi.   Kata   turunan   lainnya,   yaitu  beridentitas (verbal), maknanya adalah mempunyai identitas. Identitas merujuk kepada kesadaran diri terhadap berbagai kelompok karakteristik  yang  unik  dan  kesadaran  diri  individu  dimasukkan  dalam kelompok  tersebut.  Kesadaran  diri  mungkin  dirumuskan  dalam  bentuk budaya yang  komprehensif (identitas etnik),  menyangkut pula biogenetik (identitas  ras),  identitas  jenis  kelamin  atau  orientasi  seksual,  dan gender. Individu dan kelompok manusia ada pula yang sering mengikuti beberapa identitas yang sifatnya tentu saja lentur dan cair. Jatidiri atau  identitas  bangsa  Indonesia  dibentuk  oleh  setiap  warga  negara  Indonesia. Jatidiri sangat  diperlukan  dalam  rangka  memperkuat ketahanan  sosio kultural  masing-masing warga  Indonesia.

Yang pertama,  adalah jati diri individu  atau  setiap  orang. Jati diri individu  ini  adalah  ciri - ciri  khusus  yang  membedakan  seorang  dengan orang  lainnya. Jati diri individual  ini  merupakan  anugerah  Tuhan  kepada setiap orang. Ia menjadi bahagian dari takdir dirinya, untuk menjadi siapa dan apa dirinya di dunia ini. Jati diri individu ini dapat pula dibentuk oleh ingkungan  dan  pendidikan  di  mana  individu  itu  hidup  dan berinteraksi sosial. Contoh jatidiri individual   adalah   sifat-sifat   yang   dimiliki seseorang.  Bisa  juga  ciri-ciri  fisik.  Atau  juga  perilaku  dalam  pergaulan sosialnya.
Dimensi jatidiri yang kedua adalah jatidiri dalam kelompok, bisa jadi keluarga,   klen,   masyarakat,   atau   lazim   dikenali   sebagai  identitas kelompok   etnik. Jatidiri etnik   ini   biasanya   dilatarbelakangi   oleh kebudayaan  di  mana  kelompok  itu  berkembang.  Misalnya  jatidiri orang Aceh  dibentuk  oleh  konsep-konsep  adat  seperti  yang  termaktub  dalam adat  bak  petomeuruhom,  hukom  bak  syiah  kuala.  Orang Minangkabau jatidirietniknya  didasari  oleh  konsep adat  basandikan syarak—syarak basandikan kitabullah, syarak mangato adat mamakai.
Etnik Batak Toba mengenal   konsep 3h yaitu: hagabeon,   hamoraon, dan hasangapon, sebagai jatidiri mereka.  Konsep  ini  mengarahkan  setiap  warga  Batak Toba  dalam  hidup  di  dunia  untuk  mencari  kedudukan, pangkat,  harta, agar terhormat dan dihormati orang. Dalam konteks  sosial  juga,jatidiri etnik  ini  bisa  terwujud.  Misalnya dalam  masyarakat  Karo,  terdapat  organisasi  sosial  yang  khas  bersifat  etnik Karo yaitu persatuan merga silima. Persatuan ini merupakan wadah silaturahmi  etnik  Karo, baik  di  wilayah  budaya  Karo atau  di  perantauan, seperti Medan, Riau, Jakarta, dan lainnya. Begitu  juga dengan  organisasi sirombuk - rombuk, yang mewadahi aspirasi dan keinginan persatuan etnik Mandaling  dan  Angkola.  Gereja-gereja  di  Sumatera  Utara  juga  ada  yang mendasarkan  kepada  kelompok  etnik  tertentu.  Misalnya  Huria  Kristen Batak Protestan (HKBP), yang berdasar kepada budaya etnik Batak Toba. Gereja  Kristen  Protestan  Simalungun  (GKPS)  yang  berdasar  kepada budaya etnik Simalungun.
Selain  dari  tataran  konseptual  dan  sosial, jatidiri etnik  ini  bisa  pula berwujud dalam bentuk fisik atau material. Orang Minangkabau memiliki  jatidiri rumah  adatnya  dalam  bentuk bagonjong, serta  makanan  khas Minangkabau  seperti randang,  nasi  kapau,  gulai cubadak,  karupuak jangek,   sanjai,  dan   lainnya.  
Orang Melayu   Deli   memiliki   bentuk arsitektur  seperti  Mesjid  Raya  Al-Manshon  yang  merupakan  paduan antara  arsitektur  Melayu,  India,  Persia,  dan  Eropa.  Begitu  juga  makanan khas  Melayu  Deli  seperti  kue  karas-karas,  kari  kambing,roti  jala,  dodol Melayu,  lemang  Tebingtinggi,  dan  lain-lainnya.  Dalam  bentuk  pakaian Melayu  misalnya  penggunaan  songket,  destar,  teluk  belanga,  seluar,  dan lain-lainnya. 
Budaya tradisi  ini adalah  kebiasaan-kebiasaan yang telah digunakan  oleh sekelompok  masyarakat  tertentu,  yang  diwariskan  dari  satu  generasi  ke generasi berikutnya,  dan  telah  dianggap  menjadi  bahagian  yang  tidak terpisahkan dari masyarakat tersebut. Budaya tradisi ini mencakup semua unsur  kebudayaan,  termasuk  religi,  bahasa,  organisasi  sosial,  ekonomi, teknologi, pendidikan, dan kesenian. Dimensi jatidiri yang ketiga adalah   identitas   nasional. Jatidiri kebangsaan  menjadi  fokus perhatian  dalam  tulisan  ini. Jati diri bangsa, terbentuk    ketika  satu  atau  beberapa  kelompok  etnik  membentuk  secara bersama  sebuah  negara  bangsa  (nation  state). Unsur jatidiri budaya nasional   ini,   mungkin   diambil   dari  nilai-nillai   budaya   tradisi   yang membentuk  negara  bangsa  tadi,  namun  dengan  berbagai  persyaratan, seperti  bisa  diterima  dan  menjadi  kebanggaan  dari  mayoritas  warga negara bangsa berkenaan.


REFERENSI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar