MAKALAH
ILMU BUDAYA DASAR
MANUSIA
DAN KEBUDAYAAN
Disusun oleh :
Nama : Raja Tunggung Barus
NPM : 15215595
Kelas : 1EA33
Fakultas Ekonomi/Manajemen
Universitas Gunadarma
2015
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, karena berkat dan karunianya, penyusun bisa
menyusun dan menyajikan Makalah Ilmu Budaya Dasar ini yang berisi tentang
keterkaitan manusia dengan kebudayaan. Tak lupa penulis mengucapkan terima
kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan dorongan dan motivasi.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan
Makalah Ilmu Budaya Dasar ini masih terdapat banyak kekurangan dan jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik serta saran yang
membangun guna menyempurnakan makalah ini dan dapat menjadi acuan dalam
menyusun makalah-makalah atau tugas-tugas selanjutnya.
Penulis juga memohon maaf apabila dalam
penulisan Makalah Ilmu Budaya Dasar ini terdapat kesalahan pengetikan dan
kekeliruan sehingga membingungkan pembaca dalam memahami maksud penulis.
BAB
1
TINJAUAN
TENTANG ILMU BUDAYA DASAR
1.1 PENDAHULUAN
Mata kuliah Ilmu Budaya Dasar adalah salah
satu mata kuliah yang membicarakan tentang nilai – nilai, tentang kebudayaan,
tentang berbagai macam masalah yang dihadapi manusia dalam hidupnya sehari –
hari. Hal ini perlu, karena dirasakan kekurangan pada sistem pendidikan kita,
baik pada tingkat menengah, maupun pada tingkat perguruan tinggi. Tanpa
memungkiri banyak faktor – faktor lain yang menyebabkannya, salah satu yang
penting adalah sistem pendidikan kita. Tidaklah dapat disangkal, bahwa ruang
lingkup pendidikan kita amat sempit dan condong membuat manusia spesialis yang
tidak berpandangan luas.
Disinilah diharapkan kegunaan mata kuliah ini, agar lulusan perguruan
tinggi kita dari semua jurusan dapat mempunyai suatu kesamaan bahan
pembicaraan. Adanya kesamaan ini diharapkan, agar interelasi antelektuil kita
lebih sering dengan akibat yang positif bagi pembangunan negarakita pada
umumnya dan perbaikan pendidikan pada khususnya.
1.2 TUJUAN ILMU BUDAYA DASAR
Penyajian
mata kuliah Ilmu Budaya Dasar tidak lain merupakan usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum
tentang konsep – konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah – masalah
manusia dan kebudayaan.
Untuk bisa menjangkau tujuan tersebut
Ilmu Budaya Dasar diharapkan dapat :
1.
Mengusahakan penajaman kepekaan mahasiswa
terhadap lingkungan budaya, sehingga mereka lebih mudah menyesuaikan diri
dengan lingkungan yang baru, terutama untuk kepentingan profesi mereka.
2.
Memberi kesempatan pada mahasiswa untuk memperluas
pandangan mereka tentang masalah kemanusiaan dan budaya serta mengembangkan
daya kritis mereka terhadap persoalan – persoalan yang menyangkut kedua hal
tersebut.
3.
Mengusahakan agar mahasiswa, sebagai calon
pemimpin bangsa dan Negara serta ahli dalam bidang disiplin masing – masing,
tidak jatuh ke dalam sifat – sifat kedaerahan dan pengkotakan disiplin yang
ketat.
4.
Mengusahakan wahana komunikasi para akademisi
agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain. Dengan memiliki satu bekal
yang sama, para akademisi diharapkan akan lebih lancer dalam berkomunikasi.
BAB
2
MANUSIA
DAN KEBUDAYAAN
2.1 PENGERTIAN MANUSIA
Manusia di alam
dunia ini memegang peranan yang unik, dan dapat dipandang dari banyak segi.
Dalam ilmu eksakta, manusia dipandang sebagai kumpulan dari partikel – partikel
atom yang membentuk jaringan – jaringan sistem yang dimiliki oleh manusia (ilmu
Kimia). Manusia merupakan kumpulan dari berbagai system fisik yang saling
terkait satu sama lain dan merupakan kumpulan dari berbagai eneri (ilmu
Fisika), manusia merupakan mahluk biologis yang tergolong dalam golongan mahluk
mamalia (Biologi). Dalam ilmu-ilmu social, manusia merupakan mahluk yang ingin
memperoleh kenuntungan atau selalu memperhitungkan setiap kegiatan, sering
disebut homo economicus (ilmu Ekonomi), manusia merupakan mahluk sosial yang
tidak dapat beridiri sendiri (Sosiologi), mahluk yang selalu ingin mempunyai
kekuasaan (Politik), mahluk yang berbudaya, sering disebut homo-humanus
(Filsafat), dan lain sebagainya.
Ada dua pandangan yang akan kita jadikan acuan untuk menjelaskan tentang
unsur-unsur yang membangun manusia.
1.
Manusia
itu terdiri dari empat unsur-unsur yang saling terkait, yaitu :
a.
Jasad,
yaitu : badan kasar manusia yang nampak pada luarnya, dapat diraba dan difoto,
dan menmpati ruang dan waktu.
b.
Hayat,
yaitu : mengandung unsure hidup, yang ditandai dengan gerak.
c.
Ruh,
yaitu :bimbingan dan pimpinan Tuhan, daya yang bekerja secara spiritual dan
memahami kebenaran, suatu kemampuan mencipta yang bersifat konseptual yang
menjadi pusat lahirnya kebudayaan.
d.
Nafsu,
yaitu : pengertian diri atau keakuan, yaitu kesadaran tentang diri sendiri.
2.
Manusia
sebagai satu kepribadian mengandung tiga unsur yaitu:
a.
Id,
yang merupakan struktur kepribadian yang paling primitive dan paling tidak
nampak. Id merupakan libido murni, atau energy psikis yang menunjukkan cirri
alami yang irrasional dan terkait dengan sex, yang secara instingtual
menentukan proses-proses ketidaksadaran.
b.
Ego,
merupakan bagian atau struktur kepribadian yang pertama kali dibedakan dari Id,
seringkali disebut sebagai kepribadian “eksekutif” karena peranannya dalam
menghubungkan energy Id ke dalam saluran sosial yang dapat dimengerti oleh
orang lain.
c.
Superego,
merupakan struktur kepribadian yang paling akhir, muncul kira-kira pada usia
lima tahun. Dibandingkan dengan Id dan Ego, yang berkembang secara internal
dalam disi individu, superego terbentuk dari lingkungan eksternal.
2.2
HAKEKAT
MANUSIA
a.
Mahluk
ciptaan Tuhan yang teridiri dari tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang
utuh.
Tubuh adalah materi yang dapat
dilihat, diraba, dirasa, wujudnya konkrit tetapi tidak abadi. Jika manusia itu
meninggal, tubuhnya hancur dan lenyap. Jiwa terdapat didalam tubuh, tidak dapat
dilihat,tidak dapat diraba, sifatnya abstrak tetapi abadi. Jika manusia
meninggal, jiwanya lepas dari tubuh dan kembali ke asalnya yaitu Tuhan.
b.
Mahluk
ciptaan Tuhan yang paling sempurna, jika dibandingkan dengan mahluk lainnya.
Kesempurnaannya
terletak pada adab dan budayanya, karena manusia dilengkapi oleh penciptanya
dengan akal, perasaan, dan kehendak yang terdapat didalam jiwa manusia. Dengan
akal (ratio) manusia mampu menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selanjutnya
dengan adanya perasaan, manusia mampu menciptakan kesenian. Daya rasa
(perasaan) dalam diri manusia itu ada dua macam, yaitu perasaan inderawi dan
perasaan rohani. Perasaan inderawi adalah rangsangan jasmani melalui panca
indera, tingkatnya rendah dan terdapat pada manusia atau binatang. Perasaan
rohani adalah perasaan luhur yang hanya terdapat pada manusia misalnya :
1.
Perasaan
Intelektual, yaitu perasaan yang berkenaan dengan pengetahuan. Seseorang merasa
senang atau puas apabila ia dapat mengetahui sesuatu.
2.
Perasaan
Estetis, yaitu perasaan yang berkenan dengan keindahan. Seseorang merasa senang
apabila ia melihat atau mendengar sesuatu yang indah.
3.
Perasaan
Etis, yaitu perasaan yang berkenaan dengan kebaikan. Seseorang merasa senang
apabila sesuatu itu baik. Sebaliknya benci apabila sesuatu yang jahat.
4.
Perasaan
Diri, yaitu perasaan yang berkenaan dengan harga diri karena ada kelebihan dari
yang lain.
5.
Perasaan
sosial, yaitu perasaan yang berkenaan dengan kelompok atau korp atau hidup
bermasyarakat, ikut merasakan kehidupan orang lain.
6.
Perasaan
Religius, yaitu, perasaan yang berkenaan dengan agama atau kepercayaan.
Seseorang akan merasa tenteram jiwanya apabila tawakal kepada Tuhan.
c.
Mahluk
biokultural, yaitu mahluk hayati yang budayawi
Manusia
adalah produk dari saling tindak atau interaksi faktor-faktor hayati dan
budayawi. Sebagai mahluk hayati, manusia dapat dipelajari dari segi-segi
anatomi, fisologi atau faal,
biokimia,psikobiologi,genetika,biodemografi,evolusi biologisnya dan sebagainya.
d.
Mahluk
ciptaan Tuhan yang terikat dengan lingkungan (ekologi), mempunyai kualitas dan
martabat karena kemampuan bekerja dan berkarya.
Soren
Kienkegaard seorang filsuf Denmark pelopor ajaran “eksistensialisme” memandang
manusia dalam konteks kehidupan konkrit adalah mahluk alamiah yang terikat
dengan lingkungannya (ekologi). Memiliki sifat-sifat alamiah dan tunduk pada
hokum alamiah pula.
2.3
KEPRIBADIAN
BANGSA TIMUR
Francis L.K. Hsu,
sarjana Amerika keturunan Cina yang mengkombinasikan dalam dirinya kealian
didalam ilmu antropologi, ilmu psikologi, ilmu filsafat dan kesusatraan Cina
Klasik. Karya tulisnya berjudul Psychological Homeostatis Cina Klasik. Majalah
American Anthropologist, jilid 73 tahun 1971.
Ilmu psikologi yang
memang berasal dan timbul dalam masyarakat Barat, dimana konsep individu itu
mengambil tempat yang amat penting, biasanya menganalisi jiwa manusia dengan
teralampau banyak menekan kepada pembatasan konsep individu sebagai kesatuan
analisis tersendiri.
Untuk menghindari
pendekatan terhadap jiwa manusia itu, hanya sabagai subyek yang terkandung
dalam batas individu yang terisolasi, maka Hsu telah mengembangkan suatu
konsepsi, bahwa dalam jiwa manusia sebagai mahluk sosial budaya itu mengandung
delapan daerah yang seolah-olah seperti lingkaran-lingkaran konsentris sekitar
diri pribadi.
Nomor 7 dan nomor 6 disebut daerahtak
sadar dan sub sadar. Kedua lingkaran itu berada di daerah pedalaman dari alam
jiwa individu dan terdiri dari bahan pikiran dan gagasan yang telah terdesak ke
dalam, sehingga tidak disadari lagi oleh individu yang bersangkutan.
Nomor 5 disebut kesadaran yang tak dinyatakan
(unexpressed conscious). Liingkaran itu tediri dari pikiran-pikiran dan
gagasan-gagasan yang disadari oleh si individu yang bersangkutan, tetapi
disimpannya saja didalam alam jiwanya sendiri dan tak dinyatakan kepada
siapapun juda dalam lingkungannya. Hal itu disebabkan ada kemungkinan bahwa ;
a.
Ia
takut salah dan takut dimarahi orang apabila ia menyatakannya, atau karena ia
punya maksud jahat.
b.
Ia
sungkan menyatakannya, atau karena belum yakin bahwa ia akan mendapat repons
dan pengertian yang baik dari sesamanya.
c.
Ia
malu karena takut ditertawakan, atau karena ada perasaan bersalah yang
mendalam.
d.
Ia
tidak bias menemukan kata-kata atau perumusan yang cocok untuk menyatakan
gagasan yang bersangkutan tadi kepada sesamanya.
Nomor
4 disebut kesadaran yang dinyatakan (expressed conscious). Lingkran ini di
dalam alam jiwa manusia mengandung gagasan-gagasan, dan perasaan-perasaan yang
dapat dinyatakan secara, terbuka oleh si individu kepada sesamanya.
Nomor
3 disebut lingkaran hubungan karib, mengandung konsepsi tentang orang-orang,
binatang-binatang,atau benda-benda yang oleh si individu diajak bergaul secara
mesra dan karib yang bisa dipakai sebagai tempat berindung dan curahan hati.
Nomor
2 disebut lingkaran hubungan berguna, tidak lagi ditandai oleh sikap saying dan
mesra, melainkan dtentukan oleh fungsi kegunaan dari orang,binatang atau
benda-benda itu bagi dirinya.
Nomor
1 disebut lingkaran hubungan jauh, terdiri dari pikiran dan sikap dalam alam
jiwa manusia tentang manusia,benda,alat-alat,pengetahuan dan adat yang ada
dalam kebudayaan dan masyarakat sendiri.
Nomor
0 disebut lingkaran dunia luar, terdiri dari pikiran-pikiran dan yang hamper
sama dengan pikiran yang terletak dalam lingkungan nomor 1.
2.4
PENGERTIAN
KEBUDAYAAN
Apabila kita
berbicara tentang kebudayaan, maka kita langsung berhadapan dengan pengertian
istilahnya. Pengertian kebudayaan meyangkut bermacam-macam definisi yang telah
dipikirkan oleh sarjana-sarjana bidang sosial budaya diseluruh dunia.
Dua orang antropolog terkemuka yaitu
Melville J. Herkovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa
Cultural Determinism berarti segala sesuatu yang terdapat di dalam masyarakat
ditentukan adanya oleh kebudayaan yang dimiliki masyarakat itu.
Kebudayaan jika dikaji dari asal kata bahasa sansekerta
berasal dari kata budhayah yang berarti budi atau akal. Dalam bahasa latin,
kebudayaan berasal dari kata colere, yang berarti mengolah tanah. Jadi
kebudayaan secara umum dapat diartikan sebagai “segala sesuatu yang dihasilkan
oleh akal budi (pikiran) manusia dengan tujuan untuk mengolah tanah atau tempat
tinggalnya, atau dapat pula diartikan segala usaha manusia untuk dapat
melangsungkan dan mempertahankan hidupnya didalam lingkungannya”.
Seorang antropolog yaitu E.B.Tylor (1871) mendefinisikan
kebudayaan sebagai berikut :
Kebudayaan
adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian,
moral,hokum,adat istiadat dan kemampuan lain serta kebiasaan-kebiasaan yang
didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Selo Sumarjan dan Soelaeman Soemardi merumuskan
kebudayaan sebagai semua hasil karya,rasa dan cipta masyarakat. Karya
masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan
jasmaniah yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya, agar
kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk masyarakat.
Sutan Takdir
Alisyahbana, mengatakan
bahwa kebudayaan adalah manifestasi dari cara berfikir, hal ini amat luas apa
yang disebut kebudayaan, sebab semua laku perbuatan terakup didalamnya, dan
dapat pula diungkapkan pada basis dan cara berfikir,perasaan juga maksud
pikiran
Koentjaranigrat, mengatakan bahwa
kebudayaan antara lain berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus
dibiasakannya dengan belajar beserta keseluruhan dari hasil budi pekertinya.
A.L Krober dan C. Kluckhon, mengatakan bahwa
kebudayaan adalah manifestasi atau penjelmaan kerja jiwa manusia dalam arti
seluas-luasnya.
C.A. Van Peursen, mengatakan bahwa
dewasa ini kebudayaan diartikan sebagai manifestasi kehidupan setiap orang, dan
kehidupan setiap kelompok orang-orang, berlainan dengan hewan-hewan, maka
manusia tidak hidup begitu saja ditengah alam, melainkan selalu mengubah alam.
Kroeber dan Klukhon, mendefinisikan kebudayaan :
kebudayaan terdiri atas berbagai pola, bertingkah laku mantap, pikiran,
perasaan dan reaksi yang diperoleh dan terutama diturunkan oleh symbol-simbol
yang menyusun pencapaiannya secara tersendiri dari kelompok-kelompok manusia,
termasuk didalamnya perwujudan benda-benda materi, pusat esensi kebudayaan
terdiri atas tradisi dan cita-cita atau paham, an terutama keterikatan terhadap
nilai-nilai.
Secara praktis bahwa kebudayaan merupakan system nilai
dan gagasan utama (vital).
Sistem nilai dan gagasan utama sebagai hakekat
kebudayaan terwujud dalam tiga system kebudayaan secara terperinci, yaitu
system ideology, system sosial dan system teknologi.
Sitem ideologi meliputi etika,norma,adat istiadat,
peraturan hokum yang berfungsi sebagai pengarahan untuk system sosial dan berupa
interprestasi opersaional dan system nilai da gagasan utamaa yang berlaku dalam
masyarakat.
Sistem sosial meliputi hubungan dan kegiatan sosial
didalam masyarakat, baik yang terjalin didalam lingkungan kerabat, maupun yang
terjadi dengan masyarakat lebih luas serta pmimpin-pemimpinnya.
Sistem teknologi
meliputi segala perhatian serta pengunaannya sesuai dengan nilai budaya
yang berlaku.
2.5
UNSUR
– UNSUR KEBUDAYAAN
Kebudayaan setiap
bangsa atau masyarakat terdiri dari unsur – unsur besar maupun unsur-unsur
kecil yang merupakan bagian dari suatu kebulatan yang bersifat sebagai
kesatuan. Misalnya dalam kebudayaan Indonesia dapat dijumpai unsur besar
seperti umpamanya Majelis Permusyawaratan Rakyat disamping unsur-unsur kecil seperti
sisir, kancing, baju, peniti dan lainya yang dijual dipinggir jalan.
C. Kluckhohn didalam
karyanya berjudul Universal Categories of Culture
mengemukakan, bahwa ada tujuh unsure kebudayaan universal, yaitu:
1.
Sistem
Religi (system kepercayaan)
Merupakan produk
manusia sebagai homo religious. Manusia yang memiliki kecerdasan pikiran dan
perasaan luhur, tanggap bahwa di atas kekuatan dirinya terdapat kekuatan lain
yang maha besar. Karena itu manusia takut, sehingga menyembahnya dan lahirlah
kepercayaan dan sekarang menjadi agama.
2.
Sistem
organisai kemasyarakatan
Merupakan produk
dari manusia debagai homo socius. Manusia sadar bahwa tubuhnya lemah, namun
meiliki akal, maka disusunlah organisasi kemasyarakatan dimana manusia bekerja
sama untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
3.
Sistem
pengetahuan
Merupakan produk
manusia sebagai homo sapiens. Pengetahuan dapat diperoleh dari pemikiran
sendiri, disamping itu didapat juga dari orang lain. Kemampuan manusia meningat
apa yang telah diketahui dan kemudian menyampaikannya kepada orang lain melalui
bahasa.
4.
Sistem
mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi
Merupakan produk
manusia sebagai homo economicus. Menjadikan tingkat kehidupan manusia secara
umum terus meningkat.
5.
Sistem
teknologi dan peralatan
Merupakan produk
dari manusia sebagai homo faber. Bersumber dari pemikirannya yan cerdas dan
dibantu dengan tangannya yang dapat memegang sesuatu dengan erat, manusia dapat
membuat dan menggunakan alat.
6.
Bahasa
Merupakan produk
dari manusia sebagai homo longuens. Bahasa manusia pada mulanya diwujudkan
dalam bentuk tanda (kode) yang kemudian disempurnakan dalam bentuk lisan, dan
akhirnya menjadi bentuk bahasa tulisan.
7.
Bahasa
Merupakan produk
dari manusia sebagai homo aesteticus. Setelah manusia dapat mencukupi kebutuhan
fisiknya, maka dibutuhkan kebutuhan psikisnya untuk dipuaskan. Manusia bukan
lagi semata-mata memenuhi kebutuhan isi perut saja, mereka juga perlu pandangan
yang indah, suara yang merdu, yang semuanya dapat dipenuhi melalui kesenian.
Cultural-universal tersebut, dapat dijabarkan lagi ke dalam unsur-unsur
yang lebih kecil. Disebut kegiatan-kegiatan kebudayaan atau cultural activity.
Contoh cultural universal pencaharian hidup dan ekonomi, antara lain mencakup
kegiatan-kegiatan seperti pertanian, peternakan,sistem produksi,sistem
distribusi, dll. Cultural activity dapat dibagi lagi menjadi unsure-unsur yang
lebih kecil lagi yang disebut trait-complex. Misalnya kegiatan pertanian
menetap meliputi unsur-unsur irigasi, system pengolahan tanah dengan bajak,
system hak milik atas tanah dan lain sebagainya.
Masalah lain yang juga penting tentang kebudayaan adalah
wujudnya. Pendapat umum megatakan, bahwa kebudayaan dapat dibedakan dalam dua
bentuk wujudnya. Pertama, kebudayaan bendaniah (material) dengan cirri dapat
dirasa saja. Kedua, kebudayaan rohaniah (spiritual) dengan cirri dapat dirasa
saja.
2.6
WUJUD KEBUDAYAAN
Menurut
dimensi wujudnya, kebudayaan mempunyai tiga wujud yaitu:
1.
Kompleks
gagasan, konsep, dan pikiran manusia :
Wujud ini disebut
system budaya, sifatnya abstrak, tidak dapat dilihat, dan berpusat pada
kepala-kepala manusia yang menganutnya, atau dengan perkataan lain, dalam alam
pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan bersangkutan hidup.
2.
Kompleks
aktivitas :
Berupa aktivitas
manusia yang saling berinteraksi, bersifat kongkret, dapat diamati atau
diobservasi. Wujud ini sering disebut system sosial. System sosial ini teridiri
dari aktivitas-aktiitas manusia yang berinteraksi, berhubungan serta bergaul
satu dengan yang lain dari detik ke detik, hari ke hari, dan tahun ke tahun,
selalu menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan.
3.
Wujud sebagai benda :
Aktivitas manusia
yang saling berinteraksi tidak lepas dari berbagai penggunaan peralatan sebagai
hasil karya manusia untuk mencapai tujuannya. Aktivitas karya manusia tersebut
menghasilkan benda untuk berbagai keperluan hidupnya.
Ketiga wujud dari
kebudayaan tadi, dalam kenyataan kehidupan masyarakat tak terpisah dari satu
sama lain. Kebudayaan ideal dan adat istiadatmengatur dan member arah kepada
tindakan-tindakan dan karya manusia. Baik pikiran-pikiran dan ide-ide, maupun
tindakan fisik membentuk suatu lingkungan hidup tertentu yang makin lama makin
menjauhkan manusia dari lingkungan alamiahnya sehingga mempengaruhi pula
pola-pola perbuatannya, bahkan juga cara berpikirnya.
Semua unsur budaya
dapat dipandang dari sudut ketiga wujud masing-masing tadi. Sebagai contoh
STMIK/STIE Gunadarma. Sebagai suatu lembaga pendidikan tinggi, sekolah tinggi
tersebut merupakan suatu unsur dalam rangka kebudayaan Indonesia sebagai
keseluruhan. Maka oleh karena itu, sekolah tinggi dapat merupakan suatu unsure
kebudayaan yang ideal.
2.7
WUJUD KEBUDAYAAN
Kebudayaan sebagai karya manusia memiliki system nilai.
Menurut C. Kluckhohn dalam karyanya Variations in Value Orientation (1961)
system nilai budaya dalam semua kebudayaan di dunia, secara universal
menyangkut lima masalah pokok kehidupan manusia, yaitu :
1.
Hakekat
hidup manusia (MH)
Hakekat hidup untuk setiap kebudayaan
berbeda secara ekstem, ada yang berusaha untuk memadamkan hidup, ada pula yang
dengan pola-pola kelakuan tertentu menganggap hidup sebagai suatu hal yang
baik. “mengisi hidup”
2.
Hakekat
karya manusia (MK)
Setiap kebudayaan hakekatnya
berbeda-beda, diantaranya ada yang beranggapan bahwa karya bertujuan untuk
hidup, karya memberikan kedudukan atau kehormatan, karya merupakan gerak higup
untuk menambah karya lagi.
3.
Hakekat
waktu manusia (MM)
Hakekat waktu untuk setiap kebudayaan
berbeda; ada yang berpandangan mementingkan orientasi masa lampau, ada pula
yang berpandangan untuk masa kini atau masa yang akan dating.
4.
Hakekat
alam manusia (MA)
Ada kebudayaan yang menganggap
manusia harus mengeksploitasi alam atau memanfaatkan alam semaksimal mungkin.
Ada pula kebudayaan yang beranggapan manusia harus harmonis dengan alam dan
manusia harus menyerah kepada alam.
5.
Hakekat
hubungan manusia (MN)
Dalam hal ini ada yang mementingkan
hubungan manusia dengan manusia, baik secara horizontal (sesamanya) maupun
secara vetikal (orientasi kepada tkoh-tokoh).
2.8
PERUBAHAN KEBUDAYAAN
Masyarakat dan kebudayaan dimanapun selalu dalam keadaan
berubah, sekalipun masyarakat dan kebudayaan primitive yang terisolasi dari
berbagai hubungan dengan masyarakat lainnya.
Gerak manusia terjadi oleh karena ia mengadakan
hubungan-hubungan dengan manusia lainnya. Artinya, karena terjadi hubungan
antar kelompok manusia di dalam masyarakat.
Terjadinya gerak/perubahan ini disebabkan oleh beberapa
hal :
1.
Sebab
– sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan sendiri, misalnya
perubahan jumlah dan komposisi penduduk.
2.
Sebab
– sebab perubahan lingkungan alam fisik tempat mereka hidup. Masyarakat yang
hidupnya terbuka, yang berada dalam jalur-jalur hubungan dengan masyarakat dan
kebudayaan lain, cenderung untuk berubah lebi cepat.
Proses akulturasi di
dalam sejarah kebudayaan terjadi dalam masa-masa silam. Biasanya suatu
masyrakat hidup bertetangga dengan masyarakat-masyarakat lainnya dan antara
mereka terjadi hubungan-hubungan, mungkin dalam lapangan perdagangan,
pemerintahan dan sebagainya.
Beberapa masalah yang menyangkut
proses tadi adalah :
A.
Unsur-unsur
kebudayaan asing manakah yang mudah diterima,
B.
Unsur-usur
kebudayaan asing manakah yang sulit diterima,
C.
Individu-individu
manakah yang cepat menerima unsure-usur yang baru
D.
Ketegangan-ketegangan
apakah yang timbul sebagai akibat akulturasi tersebut,
1.
Pada
umumnya unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima adalah :
a.
Unsure
kebudayaan kebendaan seperti peralatan yang terutama sangat mudah dipakai dan
dirasakan sangat bermanfaat bagi masyarakat yang menerimanya, contohnya alat
tulis menulis.
b.
Unsure-unsur
yang terbukti membawa manfaat besar. Misalnya radio,computer,telepon yang
banyak membawa kegunaan terutama sebagai alat komunikasi.
c.
Unsur-
unsure yang dengan mudah disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang menerima
unsure-unsur tersebut, seperti mesin penggiling padi yang dengan biaya murah
serta pengetahuan teknis yang sederhana, dapat digunakan untuk memperlengkapi
pabrik-pabrik penggilingan.
2.
Unsur-unsur
kebudayaan yang sulit diterima oleh suatu masyarakat adalah misalnya:
a.
Unsure
yang menyangkut system kepercayaan seperti ideology, falsafah hidup dan
lain-lain.
b.
Unsur-unsur
yang dipelajari pada taraf pertama proses sosialisasi.Contoh yang paling mudah
adalah soal makanan pokok suatu masyarakat. Nasi sebagai makanan pokok sebagian
besar masyarakat Indonesia sukar sekali diubah dengan makanan pokok lainnya.
3.
Pada
umumnya generasi muda dianggap sebagai individu-individu yang cepat menerima
unsur-unsur kebudayaan asing yang masuk melalui proses akulturasi. Sebaiknya
generasi tua,dianggap sebagai orang-orang kolot yang sukar menerima unsure baru.
4.
Suatu
masyarakat yang terkena proses akulturasi,selalu ada kelompok-kelompok individu
yang sukar sekali atau bahkan tak dapat menyesuaikan diri dengan
perubahan-perubahan yang terjadi. Perubahan-perubahan masyarakat dianggap oleh
golongan tersebut sebagai keadaan krisis yang membahayakan keutuhan masyarakat.
2.9 KAITAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
Secara sederhana
hubungan antara manusia dan kebudayaan adalah : manusia sebagai perilaku
kebudayaan, dan kebudayaan merupakan obyek yang dilaksanakan manusia.
Dalam sosiologi
manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, maksudnya bahwa walaupun
keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu kesatuan. Dan sedih kebudayaan
itu tercipta maka kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuai dengannya.
Tampak bahwa keduanya akhirnya merupakan satu kesatuan. Contoh sederhana yang
dapat kita lihat adalah hubungan antara manusia dengan peraturan-peraturan
kemasyarakatan.
Dari sisi lain,
hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan
hubungan antara manusia dengan masyarakat dinyatakan sebagai dialeksis,
maksudnya saling terkait satu sama lain. Proses dialektis ini tercipta melalui
tiaga tahap, yaitu :
1.
Eksternalisai,
yaitu proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya.
Melalui eksternalisasi ini masyarakat menjadi kenyataan buatan manusia.
2.
Obyektivasi,
yaitu proses dimana masyarakat menjadi realitas obyektif, yaitu suatu kenyataan
yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia. Dengan demikian
masyarakat dengan segala pranata sosialnya akan mempengaruhi bahkan membentuk
perilaku manusia.
3.
Internalisasi,
yaitu proses dimana masyarakat dianggap kembali oleh manusia. Maksudnya bahwa
manusia mempelajari kembali masyarakatnya sendiri agar dia dapat hidup dengan
baik, sehingga manusia menjadi kenyataan yang dibentuk leh masyarakat.
4.
BAB 3
3.1 KOMPONEN
KEBUDAYAAN
Berdasarkan wujudnya kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen sebagai berikut:
a. Kebudayaan Material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata dan konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi, seperti mangkuk tanah liat, perhiasan, senjata, dan lain-lain. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, dan gedung.
b. Kebudayaan Nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial, yaitu ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi. Inilah denyut nadi kehidupan sosial.
Berdasarkan wujudnya kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen sebagai berikut:
a. Kebudayaan Material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata dan konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi, seperti mangkuk tanah liat, perhiasan, senjata, dan lain-lain. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, dan gedung.
b. Kebudayaan Nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial, yaitu ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi. Inilah denyut nadi kehidupan sosial.
3.2 CARA PANDANG TERHADAP KEBUDAYAAN
Dulu kebudayaan dipandang ssebagai kata benda. Sekarang kebudayaan adalah kata kerja yang berhubungan dengan budi-daya, yaitu segala usaha manusia untuk memperbaiki mutu hidupnya. Maka kebudayaan aktif dan berkembang terus, bukan sesuatu yang tetap dan dibekukan oleh zaman
Dulu kebudayaan dipandang ssebagai kata benda. Sekarang kebudayaan adalah kata kerja yang berhubungan dengan budi-daya, yaitu segala usaha manusia untuk memperbaiki mutu hidupnya. Maka kebudayaan aktif dan berkembang terus, bukan sesuatu yang tetap dan dibekukan oleh zaman
BAB 4
4.1 KESIMPULAN
Manusia
di ciptakan pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup
sendiri. Manusia harus berinteraksi untuk mencapai kebutuhannya dengan adanya
interaksi kita akan terjalin hubungan silaturahim dengan orang lain dan
mengenal kepribadian satu sama lain seperti kepribadian bangsa timur yang
identik dengan tepo seliro atau tingkat toleransi yang tinggi dan sebagainya.
4.2
SARAN
Sebagai
bangsa yang besar dan memiliki keanekaragaman budaya sudah sepantasnya kita
menjaga dan melestarikan kebudayaan yang kita miliki. Disamping itu kita juga
harus membudayakan rasa bangga atas kebudayaan yang kita miliki dan tidak malu
untuk memakainya
4.3 DAFTAR PUSTAKA
- http://www.elearning.gunadarma.ac.id/index.phpoption=com_wrapper&Itemid=36

Tidak ada komentar:
Posting Komentar