Jumat, 09 Oktober 2015

MANUSIA DAN KEBUDAYAAN


MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR
MANUSIA DAN KEBUDAYAAN




Disusun oleh :

Nama : Raja Tunggung Barus
NPM   : 15215595
Kelas  : 1EA33
Fakultas  Ekonomi/Manajemen
Universitas Gunadarma
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, karena berkat dan karunianya, penyusun bisa menyusun dan menyajikan Makalah Ilmu Budaya Dasar ini yang berisi tentang keterkaitan manusia dengan kebudayaan. Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan dorongan dan motivasi.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Makalah Ilmu Budaya Dasar ini masih terdapat banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik serta saran yang membangun guna menyempurnakan makalah ini dan dapat menjadi acuan dalam menyusun makalah-makalah atau tugas-tugas selanjutnya.
Penulis juga memohon maaf apabila dalam penulisan Makalah Ilmu Budaya Dasar ini terdapat kesalahan pengetikan dan kekeliruan sehingga membingungkan pembaca dalam memahami maksud penulis.







BAB 1
TINJAUAN TENTANG ILMU BUDAYA DASAR

1.1  PENDAHULUAN
Mata kuliah Ilmu Budaya Dasar adalah salah satu mata kuliah yang membicarakan tentang nilai – nilai, tentang kebudayaan, tentang berbagai macam masalah yang dihadapi manusia dalam hidupnya sehari – hari. Hal ini perlu, karena dirasakan kekurangan pada sistem pendidikan kita, baik pada tingkat menengah, maupun pada tingkat perguruan tinggi. Tanpa memungkiri banyak faktor – faktor lain yang menyebabkannya, salah satu yang penting adalah sistem pendidikan kita. Tidaklah dapat disangkal, bahwa ruang lingkup pendidikan kita amat sempit dan condong membuat manusia spesialis yang tidak berpandangan luas.
   Disinilah diharapkan kegunaan mata kuliah ini, agar lulusan perguruan tinggi kita dari semua jurusan dapat mempunyai suatu kesamaan bahan pembicaraan. Adanya kesamaan ini diharapkan, agar interelasi antelektuil kita lebih sering dengan akibat yang positif bagi pembangunan negarakita pada umumnya dan perbaikan pendidikan pada khususnya.

1.2 TUJUAN ILMU BUDAYA DASAR

       Penyajian mata kuliah Ilmu Budaya Dasar tidak lain merupakan usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep – konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah – masalah manusia dan kebudayaan.

Untuk bisa menjangkau tujuan tersebut Ilmu Budaya Dasar diharapkan dapat :

1.     Mengusahakan penajaman kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan budaya, sehingga mereka lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, terutama untuk kepentingan profesi mereka.
2.     Memberi kesempatan pada mahasiswa untuk memperluas pandangan mereka tentang masalah kemanusiaan dan budaya serta mengembangkan daya kritis mereka terhadap persoalan – persoalan yang menyangkut kedua hal tersebut.
3.     Mengusahakan agar mahasiswa, sebagai calon pemimpin bangsa dan Negara serta ahli dalam bidang disiplin masing – masing, tidak jatuh ke dalam sifat – sifat kedaerahan dan pengkotakan disiplin yang ketat.
4.     Mengusahakan wahana komunikasi para akademisi agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain. Dengan memiliki satu bekal yang sama, para akademisi diharapkan akan lebih lancer dalam berkomunikasi.








BAB 2
MANUSIA DAN KEBUDAYAAN


2.1 PENGERTIAN MANUSIA

        Manusia di alam dunia ini memegang peranan yang unik, dan dapat dipandang dari banyak segi. Dalam ilmu eksakta, manusia dipandang sebagai kumpulan dari partikel – partikel atom yang membentuk jaringan – jaringan sistem yang dimiliki oleh manusia (ilmu Kimia). Manusia merupakan kumpulan dari berbagai system fisik yang saling terkait satu sama lain dan merupakan kumpulan dari berbagai eneri (ilmu Fisika), manusia merupakan mahluk biologis yang tergolong dalam golongan mahluk mamalia (Biologi). Dalam ilmu-ilmu social, manusia merupakan mahluk yang ingin memperoleh kenuntungan atau selalu memperhitungkan setiap kegiatan, sering disebut homo economicus (ilmu Ekonomi), manusia merupakan mahluk sosial yang tidak dapat beridiri sendiri (Sosiologi), mahluk yang selalu ingin mempunyai kekuasaan (Politik), mahluk yang berbudaya, sering disebut homo-humanus (Filsafat), dan lain sebagainya.
          Ada dua pandangan yang akan kita jadikan acuan untuk menjelaskan tentang unsur-unsur yang membangun manusia.

1.     Manusia itu terdiri dari empat unsur-unsur yang saling terkait, yaitu :  
a.     Jasad, yaitu : badan kasar manusia yang nampak pada luarnya, dapat diraba dan difoto, dan menmpati ruang dan waktu.
b.     Hayat, yaitu : mengandung unsure hidup, yang ditandai dengan gerak.
c.     Ruh, yaitu :bimbingan dan pimpinan Tuhan, daya yang bekerja secara spiritual dan memahami kebenaran, suatu kemampuan mencipta yang bersifat konseptual yang menjadi pusat lahirnya kebudayaan.
d.     Nafsu, yaitu : pengertian diri atau keakuan, yaitu kesadaran tentang diri sendiri.

2.     Manusia sebagai satu kepribadian mengandung tiga unsur yaitu:
a.     Id, yang merupakan struktur kepribadian yang paling primitive dan paling tidak nampak. Id merupakan libido murni, atau energy psikis yang menunjukkan cirri alami yang irrasional dan terkait dengan sex, yang secara instingtual menentukan proses-proses ketidaksadaran.
b.     Ego, merupakan bagian atau struktur kepribadian yang pertama kali dibedakan dari Id, seringkali disebut sebagai kepribadian “eksekutif” karena peranannya dalam menghubungkan energy Id ke dalam saluran sosial yang dapat dimengerti oleh orang lain.
c.     Superego, merupakan struktur kepribadian yang paling akhir, muncul kira-kira pada usia lima tahun. Dibandingkan dengan Id dan Ego, yang berkembang secara internal dalam disi individu, superego terbentuk dari lingkungan eksternal.




2.2         HAKEKAT MANUSIA

a.     Mahluk ciptaan Tuhan yang teridiri dari tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh.
      Tubuh adalah materi yang dapat dilihat, diraba, dirasa, wujudnya konkrit tetapi tidak abadi. Jika manusia itu meninggal, tubuhnya hancur dan lenyap. Jiwa terdapat didalam tubuh, tidak dapat dilihat,tidak dapat diraba, sifatnya abstrak tetapi abadi. Jika manusia meninggal, jiwanya lepas dari tubuh dan kembali ke asalnya yaitu Tuhan.

b.    Mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, jika dibandingkan dengan mahluk lainnya.
      Kesempurnaannya terletak pada adab dan budayanya, karena manusia dilengkapi oleh penciptanya dengan akal, perasaan, dan kehendak yang terdapat didalam jiwa manusia. Dengan akal (ratio) manusia mampu menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selanjutnya dengan adanya perasaan, manusia mampu menciptakan kesenian. Daya rasa (perasaan) dalam diri manusia itu ada dua macam, yaitu perasaan inderawi dan perasaan rohani. Perasaan inderawi adalah rangsangan jasmani melalui panca indera, tingkatnya rendah dan terdapat pada manusia atau binatang. Perasaan rohani adalah perasaan luhur yang hanya terdapat pada manusia misalnya :

1.     Perasaan Intelektual, yaitu perasaan yang berkenaan dengan pengetahuan. Seseorang merasa senang atau puas apabila ia dapat mengetahui sesuatu.
2.     Perasaan Estetis, yaitu perasaan yang berkenan dengan keindahan. Seseorang merasa senang apabila ia melihat atau mendengar sesuatu yang indah.
3.     Perasaan Etis, yaitu perasaan yang berkenaan dengan kebaikan. Seseorang merasa senang apabila sesuatu itu baik. Sebaliknya benci apabila sesuatu yang jahat.
4.     Perasaan Diri, yaitu perasaan yang berkenaan dengan harga diri karena ada kelebihan dari yang lain.
5.     Perasaan sosial, yaitu perasaan yang berkenaan dengan kelompok atau korp atau hidup bermasyarakat, ikut merasakan kehidupan orang lain.
6.     Perasaan Religius, yaitu, perasaan yang berkenaan dengan agama atau kepercayaan. Seseorang akan merasa tenteram jiwanya apabila tawakal kepada Tuhan.
     
c.     Mahluk biokultural, yaitu mahluk hayati yang budayawi

Manusia adalah produk dari saling tindak atau interaksi faktor-faktor hayati dan budayawi. Sebagai mahluk hayati, manusia dapat dipelajari dari segi-segi anatomi, fisologi atau faal, biokimia,psikobiologi,genetika,biodemografi,evolusi biologisnya dan sebagainya.

d.    Mahluk ciptaan Tuhan yang terikat dengan lingkungan (ekologi), mempunyai kualitas dan martabat karena kemampuan bekerja dan berkarya.

Soren Kienkegaard seorang filsuf Denmark pelopor ajaran “eksistensialisme” memandang manusia dalam konteks kehidupan konkrit adalah mahluk alamiah yang terikat dengan lingkungannya (ekologi). Memiliki sifat-sifat alamiah dan tunduk pada hokum alamiah pula.


2.3         KEPRIBADIAN BANGSA TIMUR

Francis L.K. Hsu, sarjana Amerika keturunan Cina yang mengkombinasikan dalam dirinya kealian didalam ilmu antropologi, ilmu psikologi, ilmu filsafat dan kesusatraan Cina Klasik. Karya tulisnya berjudul Psychological Homeostatis Cina Klasik. Majalah American Anthropologist, jilid 73 tahun 1971.

Ilmu psikologi yang memang berasal dan timbul dalam masyarakat Barat, dimana konsep individu itu mengambil tempat yang amat penting, biasanya menganalisi jiwa manusia dengan teralampau banyak menekan kepada pembatasan konsep individu sebagai kesatuan analisis tersendiri.

Untuk menghindari pendekatan terhadap jiwa manusia itu, hanya sabagai subyek yang terkandung dalam batas individu yang terisolasi, maka Hsu telah mengembangkan suatu konsepsi, bahwa dalam jiwa manusia sebagai mahluk sosial budaya itu mengandung delapan daerah yang seolah-olah seperti lingkaran-lingkaran konsentris sekitar diri pribadi.

         Nomor 7 dan nomor 6 disebut daerahtak sadar dan sub sadar. Kedua lingkaran itu berada di daerah pedalaman dari alam jiwa individu dan terdiri dari bahan pikiran dan gagasan yang telah terdesak ke dalam, sehingga tidak disadari lagi oleh individu yang bersangkutan.
Nomor 5 disebut kesadaran yang tak dinyatakan (unexpressed conscious). Liingkaran itu tediri dari pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan yang disadari oleh si individu yang bersangkutan, tetapi disimpannya saja didalam alam jiwanya sendiri dan tak dinyatakan kepada siapapun juda dalam lingkungannya. Hal itu disebabkan ada kemungkinan bahwa ;

a.     Ia takut salah dan takut dimarahi orang apabila ia menyatakannya, atau karena ia punya maksud jahat.
b.     Ia sungkan menyatakannya, atau karena belum yakin bahwa ia akan mendapat repons dan pengertian yang baik dari sesamanya.
c.     Ia malu karena takut ditertawakan, atau karena ada perasaan bersalah yang mendalam.
d.     Ia tidak bias menemukan kata-kata atau perumusan yang cocok untuk menyatakan gagasan yang bersangkutan tadi kepada sesamanya.

Nomor 4 disebut kesadaran yang dinyatakan (expressed conscious). Lingkran ini di dalam alam jiwa manusia mengandung gagasan-gagasan, dan perasaan-perasaan yang dapat dinyatakan secara, terbuka oleh si individu kepada sesamanya.

Nomor 3 disebut lingkaran hubungan karib, mengandung konsepsi tentang orang-orang, binatang-binatang,atau benda-benda yang oleh si individu diajak bergaul secara mesra dan karib yang bisa dipakai sebagai tempat berindung dan curahan hati.

Nomor 2 disebut lingkaran hubungan berguna, tidak lagi ditandai oleh sikap saying dan mesra, melainkan dtentukan oleh fungsi kegunaan dari orang,binatang atau benda-benda itu bagi dirinya.

Nomor 1 disebut lingkaran hubungan jauh, terdiri dari pikiran dan sikap dalam alam jiwa manusia tentang manusia,benda,alat-alat,pengetahuan dan adat yang ada dalam kebudayaan dan masyarakat sendiri.

Nomor 0 disebut lingkaran dunia luar, terdiri dari pikiran-pikiran dan yang hamper sama dengan pikiran yang terletak dalam lingkungan nomor 1.



2.4         PENGERTIAN KEBUDAYAAN

Apabila kita berbicara tentang kebudayaan, maka kita langsung berhadapan dengan pengertian istilahnya. Pengertian kebudayaan meyangkut bermacam-macam definisi yang telah dipikirkan oleh sarjana-sarjana bidang sosial budaya diseluruh dunia.

           Dua orang antropolog terkemuka yaitu Melville J. Herkovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa Cultural Determinism berarti segala sesuatu yang terdapat di dalam masyarakat ditentukan adanya oleh kebudayaan yang dimiliki masyarakat itu.

Kebudayaan jika dikaji dari asal kata bahasa sansekerta berasal dari kata budhayah yang berarti budi atau akal. Dalam bahasa latin, kebudayaan berasal dari kata colere, yang berarti mengolah tanah. Jadi kebudayaan secara umum dapat diartikan sebagai “segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal budi (pikiran) manusia dengan tujuan untuk mengolah tanah atau tempat tinggalnya, atau dapat pula diartikan segala usaha manusia untuk dapat melangsungkan dan mempertahankan hidupnya didalam lingkungannya”.

      Seorang antropolog yaitu E.B.Tylor (1871) mendefinisikan kebudayaan sebagai berikut :

Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral,hokum,adat istiadat dan kemampuan lain serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Selo Sumarjan dan Soelaeman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya,rasa dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya, agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk masyarakat.

Sutan Takdir Alisyahbana, mengatakan bahwa kebudayaan adalah manifestasi dari cara berfikir, hal ini amat luas apa yang disebut kebudayaan, sebab semua laku perbuatan terakup didalamnya, dan dapat pula diungkapkan pada basis dan cara berfikir,perasaan juga maksud pikiran

Koentjaranigrat, mengatakan bahwa kebudayaan antara lain berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakannya dengan belajar beserta keseluruhan dari hasil budi pekertinya.

A.L Krober dan C. Kluckhon, mengatakan bahwa kebudayaan adalah manifestasi atau penjelmaan kerja jiwa manusia dalam arti seluas-luasnya.

C.A. Van Peursen, mengatakan bahwa dewasa ini kebudayaan diartikan sebagai manifestasi kehidupan setiap orang, dan kehidupan setiap kelompok orang-orang, berlainan dengan hewan-hewan, maka manusia tidak hidup begitu saja ditengah alam, melainkan selalu mengubah alam.


Kroeber dan  Klukhon, mendefinisikan kebudayaan : kebudayaan terdiri atas berbagai pola, bertingkah laku mantap, pikiran, perasaan dan reaksi yang diperoleh dan terutama diturunkan oleh symbol-simbol yang menyusun pencapaiannya secara tersendiri dari kelompok-kelompok manusia, termasuk didalamnya perwujudan benda-benda materi, pusat esensi kebudayaan terdiri atas tradisi dan cita-cita atau paham, an terutama keterikatan terhadap nilai-nilai.
Secara praktis bahwa kebudayaan merupakan system nilai dan gagasan utama (vital).
Sistem nilai dan gagasan utama sebagai hakekat kebudayaan terwujud dalam tiga system kebudayaan secara terperinci, yaitu system ideology, system sosial dan system teknologi.
Sitem ideologi meliputi etika,norma,adat istiadat, peraturan hokum yang berfungsi sebagai pengarahan untuk system sosial dan berupa interprestasi opersaional dan system nilai da gagasan utamaa yang berlaku dalam masyarakat.
Sistem sosial meliputi hubungan dan kegiatan sosial didalam masyarakat, baik yang terjalin didalam lingkungan kerabat, maupun yang terjadi dengan masyarakat lebih luas serta pmimpin-pemimpinnya.
Sistem teknologi  meliputi segala perhatian serta pengunaannya sesuai dengan nilai budaya yang berlaku.


2.5         UNSUR – UNSUR  KEBUDAYAAN

Kebudayaan setiap bangsa atau masyarakat terdiri dari unsur – unsur besar maupun unsur-unsur kecil yang merupakan bagian dari suatu kebulatan yang bersifat sebagai kesatuan. Misalnya dalam kebudayaan Indonesia dapat dijumpai unsur besar seperti umpamanya Majelis Permusyawaratan Rakyat disamping unsur-unsur kecil seperti sisir, kancing, baju, peniti dan lainya yang dijual dipinggir jalan.
 
C. Kluckhohn   didalam   karyanya   berjudul Universal Categories of Culture mengemukakan, bahwa ada tujuh unsure kebudayaan universal, yaitu:

1.     Sistem Religi (system kepercayaan)
Merupakan produk manusia sebagai homo religious. Manusia yang memiliki kecerdasan pikiran dan perasaan luhur, tanggap bahwa di atas kekuatan dirinya terdapat kekuatan lain yang maha besar. Karena itu manusia takut, sehingga menyembahnya dan lahirlah kepercayaan dan sekarang menjadi agama.

2.     Sistem organisai kemasyarakatan
Merupakan produk dari manusia debagai homo socius. Manusia sadar bahwa tubuhnya lemah, namun meiliki akal, maka disusunlah organisasi kemasyarakatan dimana manusia bekerja sama untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

3.     Sistem pengetahuan
Merupakan produk manusia sebagai homo sapiens. Pengetahuan dapat diperoleh dari pemikiran sendiri, disamping itu didapat juga dari orang lain. Kemampuan manusia meningat apa yang telah diketahui dan kemudian menyampaikannya kepada orang lain melalui bahasa.

4.     Sistem mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi
Merupakan produk manusia sebagai homo economicus. Menjadikan tingkat kehidupan manusia secara umum terus meningkat.

5.     Sistem teknologi dan peralatan
Merupakan produk dari manusia sebagai homo faber. Bersumber dari pemikirannya yan cerdas dan dibantu dengan tangannya yang dapat memegang sesuatu dengan erat, manusia dapat membuat dan menggunakan alat.

6.     Bahasa
Merupakan produk dari manusia sebagai homo longuens. Bahasa manusia pada mulanya diwujudkan dalam bentuk tanda (kode) yang kemudian disempurnakan dalam bentuk lisan, dan akhirnya menjadi bentuk bahasa tulisan.

7.     Bahasa
Merupakan produk dari manusia sebagai homo aesteticus. Setelah manusia dapat mencukupi kebutuhan fisiknya, maka dibutuhkan kebutuhan psikisnya untuk dipuaskan. Manusia bukan lagi semata-mata memenuhi kebutuhan isi perut saja, mereka juga perlu pandangan yang indah, suara yang merdu, yang semuanya dapat dipenuhi melalui kesenian.
     Cultural-universal tersebut, dapat dijabarkan lagi ke dalam unsur-unsur yang lebih kecil. Disebut kegiatan-kegiatan kebudayaan atau cultural activity. Contoh cultural universal pencaharian hidup dan ekonomi, antara lain mencakup kegiatan-kegiatan seperti pertanian, peternakan,sistem produksi,sistem distribusi, dll. Cultural activity dapat dibagi lagi menjadi unsure-unsur yang lebih kecil lagi yang disebut trait-complex. Misalnya kegiatan pertanian menetap meliputi unsur-unsur irigasi, system pengolahan tanah dengan bajak, system hak milik atas tanah dan lain sebagainya.
Masalah lain yang juga penting tentang kebudayaan adalah wujudnya. Pendapat umum megatakan, bahwa kebudayaan dapat dibedakan dalam dua bentuk wujudnya. Pertama, kebudayaan bendaniah (material) dengan cirri dapat dirasa saja. Kedua, kebudayaan rohaniah (spiritual) dengan cirri dapat dirasa saja.


2.6         WUJUD  KEBUDAYAAN

Menurut dimensi wujudnya, kebudayaan mempunyai tiga wujud yaitu:

1.     Kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia :
Wujud ini disebut system budaya, sifatnya abstrak, tidak dapat dilihat, dan berpusat pada kepala-kepala manusia yang menganutnya, atau dengan perkataan lain, dalam alam pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan bersangkutan hidup.

2.     Kompleks aktivitas :
Berupa aktivitas manusia yang saling berinteraksi, bersifat kongkret, dapat diamati atau diobservasi. Wujud ini sering disebut system sosial. System sosial ini teridiri dari aktivitas-aktiitas manusia yang berinteraksi, berhubungan serta bergaul satu dengan yang lain dari detik ke detik, hari ke hari, dan tahun ke tahun, selalu menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan.
3.      Wujud sebagai benda :
Aktivitas manusia yang saling berinteraksi tidak lepas dari berbagai penggunaan peralatan sebagai hasil karya manusia untuk mencapai tujuannya. Aktivitas karya manusia tersebut menghasilkan benda untuk berbagai keperluan hidupnya.

Ketiga wujud dari kebudayaan tadi, dalam kenyataan kehidupan masyarakat tak terpisah dari satu sama lain. Kebudayaan ideal dan adat istiadatmengatur dan member arah kepada tindakan-tindakan dan karya manusia. Baik pikiran-pikiran dan ide-ide, maupun tindakan fisik membentuk suatu lingkungan hidup tertentu yang makin lama makin menjauhkan manusia dari lingkungan alamiahnya sehingga mempengaruhi pula pola-pola perbuatannya, bahkan juga cara berpikirnya.

Semua unsur budaya dapat dipandang dari sudut ketiga wujud masing-masing tadi. Sebagai contoh STMIK/STIE Gunadarma. Sebagai suatu lembaga pendidikan tinggi, sekolah tinggi tersebut merupakan suatu unsur dalam rangka kebudayaan Indonesia sebagai keseluruhan. Maka oleh karena itu, sekolah tinggi dapat merupakan suatu unsure kebudayaan yang ideal.

2.7         WUJUD  KEBUDAYAAN

Kebudayaan sebagai karya manusia memiliki system nilai. Menurut C. Kluckhohn dalam karyanya Variations in Value Orientation (1961) system nilai budaya dalam semua kebudayaan di dunia, secara universal menyangkut lima masalah pokok kehidupan manusia, yaitu :

1.     Hakekat hidup manusia (MH)
Hakekat hidup untuk setiap kebudayaan berbeda secara ekstem, ada yang berusaha untuk memadamkan hidup, ada pula yang dengan pola-pola kelakuan tertentu menganggap hidup sebagai suatu hal yang baik. “mengisi hidup”
2.     Hakekat karya manusia (MK)
Setiap kebudayaan hakekatnya berbeda-beda, diantaranya ada yang beranggapan bahwa karya bertujuan untuk hidup, karya memberikan kedudukan atau kehormatan, karya merupakan gerak higup untuk menambah karya lagi.
3.     Hakekat waktu manusia (MM)
Hakekat waktu untuk setiap kebudayaan berbeda; ada yang berpandangan mementingkan orientasi masa lampau, ada pula yang berpandangan untuk masa kini atau masa yang akan dating.
4.     Hakekat alam manusia (MA)
Ada kebudayaan yang menganggap manusia harus mengeksploitasi alam atau memanfaatkan alam semaksimal mungkin. Ada pula kebudayaan yang beranggapan manusia harus harmonis dengan alam dan manusia harus menyerah kepada alam.
5.     Hakekat hubungan manusia (MN)
Dalam hal ini ada yang mementingkan hubungan manusia dengan manusia, baik secara horizontal (sesamanya) maupun secara vetikal (orientasi kepada tkoh-tokoh).

2.8         PERUBAHAN  KEBUDAYAAN

Masyarakat dan kebudayaan dimanapun selalu dalam keadaan berubah, sekalipun masyarakat dan kebudayaan primitive yang terisolasi dari berbagai hubungan dengan masyarakat lainnya.
Gerak manusia terjadi oleh karena ia mengadakan hubungan-hubungan dengan manusia lainnya. Artinya, karena terjadi hubungan antar kelompok manusia di dalam masyarakat.
Terjadinya gerak/perubahan ini disebabkan oleh beberapa hal :
1.   Sebab – sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan sendiri, misalnya perubahan jumlah dan komposisi penduduk.
2.   Sebab – sebab perubahan lingkungan alam fisik tempat mereka hidup. Masyarakat yang hidupnya terbuka, yang berada dalam jalur-jalur hubungan dengan masyarakat dan kebudayaan lain, cenderung untuk berubah lebi cepat.

Proses akulturasi di dalam sejarah kebudayaan terjadi dalam masa-masa silam. Biasanya suatu masyrakat hidup bertetangga dengan masyarakat-masyarakat lainnya dan antara mereka terjadi hubungan-hubungan, mungkin dalam lapangan perdagangan, pemerintahan dan sebagainya.
Beberapa masalah yang menyangkut proses tadi adalah :
A.    Unsur-unsur kebudayaan asing manakah yang mudah diterima,
B.    Unsur-usur kebudayaan asing manakah yang sulit diterima,
C.    Individu-individu manakah yang cepat menerima unsure-usur yang baru
D.    Ketegangan-ketegangan apakah yang timbul sebagai akibat akulturasi tersebut,

1.     Pada umumnya unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima adalah :
a.     Unsure kebudayaan kebendaan seperti peralatan yang terutama sangat mudah dipakai dan dirasakan sangat bermanfaat bagi masyarakat yang menerimanya, contohnya alat tulis menulis.
b.     Unsure-unsur yang terbukti membawa manfaat besar. Misalnya radio,computer,telepon yang banyak membawa kegunaan terutama sebagai alat komunikasi.
c.     Unsur- unsure yang dengan mudah disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang menerima unsure-unsur tersebut, seperti mesin penggiling padi yang dengan biaya murah serta pengetahuan teknis yang sederhana, dapat digunakan untuk memperlengkapi pabrik-pabrik penggilingan.


                     
2.     Unsur-unsur kebudayaan yang sulit diterima oleh suatu masyarakat  adalah misalnya:
a.     Unsure yang menyangkut system kepercayaan seperti ideology, falsafah hidup dan lain-lain.
b.     Unsur-unsur yang dipelajari pada taraf pertama proses sosialisasi.Contoh yang paling mudah adalah soal makanan pokok suatu masyarakat. Nasi sebagai makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia sukar sekali diubah dengan makanan pokok lainnya.
3.     Pada umumnya generasi muda dianggap sebagai individu-individu yang cepat menerima unsur-unsur kebudayaan asing yang masuk melalui proses akulturasi. Sebaiknya generasi tua,dianggap sebagai orang-orang kolot yang sukar menerima unsure baru.
4.     Suatu masyarakat yang terkena proses akulturasi,selalu ada kelompok-kelompok individu yang sukar sekali atau bahkan tak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Perubahan-perubahan masyarakat dianggap oleh golongan tersebut sebagai keadaan krisis yang membahayakan keutuhan masyarakat.


      
          2.9      KAITAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN

Secara sederhana hubungan antara manusia dan kebudayaan adalah : manusia sebagai perilaku kebudayaan, dan kebudayaan merupakan obyek yang dilaksanakan manusia.
Dalam sosiologi manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, maksudnya bahwa walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu kesatuan. Dan sedih kebudayaan itu tercipta maka kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuai dengannya. Tampak bahwa keduanya akhirnya merupakan satu kesatuan. Contoh sederhana yang dapat kita lihat adalah hubungan antara manusia dengan peraturan-peraturan kemasyarakatan.
Dari sisi lain, hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat dinyatakan sebagai dialeksis, maksudnya saling terkait satu sama lain. Proses dialektis ini tercipta melalui tiaga tahap, yaitu :
1.     Eksternalisai, yaitu proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya. Melalui eksternalisasi ini masyarakat menjadi kenyataan buatan manusia.
2.     Obyektivasi, yaitu proses dimana masyarakat menjadi realitas obyektif, yaitu suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia. Dengan demikian masyarakat dengan segala pranata sosialnya akan mempengaruhi bahkan membentuk perilaku manusia.
3.     Internalisasi, yaitu proses dimana masyarakat dianggap kembali oleh manusia. Maksudnya bahwa manusia mempelajari kembali masyarakatnya sendiri agar dia dapat hidup dengan baik, sehingga manusia menjadi kenyataan yang dibentuk leh masyarakat.
4.      

BAB 3



3.1  KOMPONEN KEBUDAYAAN
Berdasarkan wujudnya kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen sebagai berikut:
a. Kebudayaan Material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata dan konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi, seperti mangkuk tanah liat, perhiasan, senjata, dan lain-lain. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, dan gedung.
b. Kebudayaan Nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial, yaitu ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi. Inilah denyut nadi kehidupan sosial.
3.2 CARA PANDANG TERHADAP KEBUDAYAAN                               
Dulu kebudayaan dipandang ssebagai kata benda. Sekarang kebudayaan adalah kata kerja yang berhubungan dengan budi-daya, yaitu segala usaha manusia untuk memperbaiki mutu hidupnya. Maka kebudayaan aktif dan berkembang terus, bukan sesuatu yang tetap dan dibekukan oleh zaman



BAB 4

4.1 KESIMPULAN

Manusia di ciptakan pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Manusia harus berinteraksi untuk mencapai kebutuhannya dengan adanya interaksi kita akan terjalin hubungan silaturahim dengan orang lain dan mengenal kepribadian satu sama lain seperti kepribadian bangsa timur yang identik dengan tepo seliro atau tingkat toleransi yang tinggi dan sebagainya.

4.2 SARAN

Sebagai bangsa yang besar dan memiliki keanekaragaman budaya sudah sepantasnya kita menjaga dan melestarikan kebudayaan yang kita miliki. Disamping itu kita juga harus membudayakan rasa bangga atas kebudayaan yang kita miliki dan tidak malu untuk memakainya


4.3 DAFTAR PUSTAKA

-   http://www.elearning.gunadarma.ac.id/index.phpoption=com_wrapper&Itemid=36



Tidak ada komentar:

Posting Komentar